Mengamati perilaku orang lain sebenarnya sangat mengasikkan. Kita bisa menemukan hal yang mencengangkan yang bisa dilakukan oleh seseorang. Kadang lucu, aneh dan tidak terbayangkan. Misalnya saya pernah berjalan di belakang dua orang ibu di daerah Duri Jakarta Barat. Mereka sepertinya sedang asik berbicara tentang buruknya pemerintah kota Jakarta mengelola sistem irigasi. Setiap tahun selalu terjadi banjir itu menurut mereka. Dan di jembatan yang memisahkan wilayah Duri dengan Grogol, mereka serempak melemparkan bungkusan yang ternyata berisi sampah kedalam sungai. Hebat bukan.
Menjumpai peristiwa menarik bisa terjadi dimana saja. Seperti ketika saya pulang ke Bogor beberapa bulan yang lalu. Bogor 15 tahun yang lalu terkenal dengan sebutan kota hujan, talas Bogor, asinan Bogor dan mottonya tegar beriman. Saat ini masih terkenal dengan kota hujan tapi dengan embel embel kota sejuta angkot. Selepas kita keluar dari pintu tol Jagorawi sejauh mata memandang terlihat angkutan berwarna hijau atau biru. Kejadian tidak terlupakan saat berada didalam angkutan umum dari arah kota Bogor menuju pasar Leuwiliang. Saat itu macet total. Supir angkutan yang saya tumpangi mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan kepada polisi POLSEK Leuwiliang. Setelah menggebrak pintu beberapa kali, dia nekat mengambil jalur arah berlawanan yang memang saat itu tidak macet. Selanjutnya bisa ditebak aksi bodoh ini diikuti oleh kendaraan di belakangnya. Alhasil kemacetan yang awalnya satu arah sekarang menjadi dua arah dan tentu saja semakin sulit diatasi.
Tulisan ini sendiri terinspirasi dari berita televisi aksi anarkis demonstrasi mahasiswa menunutut fasilitas kampus yang tidak memadai. Dalam aksinya mereka melempari gedung rektorat sehingga kacanya pecah, merusak pintu masuk labolatorium dan melemparinya sehingga sebagian alat lab rusak, tidak puas sampai disana mereka juga merusak fasilitas kampus seperti kursi, lampu taman, pagar kampus dll. Lucu bukan. Menurut saya bahkan lebih lucu dari opera van Java yang biasa saya tonton saat waktu senggang.
Baru baru ini saya mengkritik perusahaan saya yang tidak memberikan bonus tambahan padahal keuntungan perusahaan jauh lebih tinggi dibanding tahun 2009. Tetapi saat saya ditanya pertanyaan yang paling standar yaitu.” Nilai tambah apa yang anda lalukan untuk perusahaan di tahun 2010 di bandingkan yang anda lakukan tahun 2009.” Bingung menjawabnya. Atasan saya nyeletuk.” Perusahaan memberikan kompensasi dari apa yang lu lakuin bukan apa yang lu pengen.”
Menurut saya kritik merupakan hal yang mulia, baik dan diperlukan. Kritik merupakan teguran agar apa yang kita lakukan bisa lebih sempurna, kontrol agar tidak salah arah dan menyadarkan kita dari kesombongan. Tetapi jika tidak tepat cara nya saya kok merasa gimana gitu.
Setelah saya pikir mungkin ada beberapa hal yang kita harus perhatikan sebelum mengkritik.
1. Sebelum mengkritik kita harus yakin bahwa kita memang paham dengan persoalaan yang akan kita komentari. Misal Kalu kamu ahli tari kayaknya kurang cocok deh kalu kamu mengkritik cara seorang dokter hewan bedah kucing hehe
2. Niat nya baik. Usahakan mengkritik yang membangun, menegur, mengkoreksi dan meluruskan, bukan untuk menghujat, mempermalukan atau menjatuhkan. Kayaknya kalau niatnya baik mengkritik juga bisa jadi ibadah, lumayan kan buat nambah nambah pahala.
3. Mengkritik dengan cara yang bermartabat. Kayaknya kalu saya jadi presiden saya juga tersinggung tuh kalo tiba tiba ada orang bawa bawa kerbau di bundaran HI pake nama saya. Bayangkan kita sudah menyerahkan sebagian besar waktu kita, pemikiran kita dan perhatian kita untuk negara, melakukan hal hal besar, eh tiba tiba ada orang bilang "nih kerbau kayak kamu lamban. Weks". Bete dah. Apalagi kalu orang yang mengkritik jadi camat aja nggak pernah.
4. Kepala boleh panas hati musti tetep dingin. Jadi walaupun kita misal 5000% nggak setuju dengan orang lain ngga perlu lah kita teriak teriak, gebrak gebrak meja atau ngancam ngancam. Saya kok rada gimana gitu membaca berita di koran ada politisi bilang para ketua KPK sekarang plin plan seperti keledai. Setau saya para ketua KPK itu orang pinter pinter loh, jadi kalu nggak sependapat yah di omongin baik baik.
5. Kalau kita berani mengkritik, kita juga sebaiknya berani menerima kritik tul ndak. Ya kalo pengennya menang sendiri mah mending ngobrol aja sama sepatu saya wkwk. Saya pernah baca buku bagus disitu di bilang kata lain dari "Sudah saya bilang = Lebih baik tutup mulut mu"
6. Hehe itu dulu deh... berhubung efek kopinya udah mulai abis jadi mau tidur dulu... mudah mudahan saat bangun nanti kritikan saya lebih berkualitas dan di nilai ibadah oleh tuhan...BUKANKAN HIDUP KITA INI MEMANG HANYA UNTUK BERIBADAH .. amien
Mengkritik is culture